Masih nyambung dengan postingan kemarin. Ngomong2 tentang IM, saya rencananya mau ngejual barang2 digital yang berkaitan dengan pendidikan matematika (bahasa kulonnya: education mathematic alias edumath).
Kenapa? Soalnya ngajar matematika itu enak sih. Baik itu yang terkait dengan aljabar, aritmatika, dan geometri. Selalu saja ada soal2 sulit yang bikin saya gregetan. Saat soal2 semacam itu berhasil terpecahkan, betapa senangnya hati ini. Dan hati ini semakin senang saat berhasil mewariskan keberhasilan ini ke siswa2 saya.
I like math!
03 Mei 2008
01 Mei 2008
Belajar Internet Marketing
Hari Rabu kemarin, saya ketemu dan ngobrol2 dengan Pak Muslih tentang internet marketing (IM). FYI, Pak Muslih ini pemilik manggaduakomputer.com dan seorang internet marketer. Tau kan? Itu lho, orang yang nyari duit dengan menjual barang/ jasa lewat internet.
Insya’ Allah ke depannya saya mau menekuni bidang IM ini. Coz saya lihat, ma’isyah ini ma’isyah yang waktunya fleksibel dan potensi mendapatkan duitnya besar. Cocok deh dengan niat saya kuliah lagi di S2 dan S3. Pagi ampe siang kuliah dan penelitian, sore ampe malam nyari duit di internet. Asyik kan?
Nasihat KH Zainuddin MZ ada benarnya lho: ”Seni membuat hidup lebih indah, teknologi membuat hidup lebih mudah, dan iman membuat hidup lebih terarah.”
Insya’ Allah ke depannya saya mau menekuni bidang IM ini. Coz saya lihat, ma’isyah ini ma’isyah yang waktunya fleksibel dan potensi mendapatkan duitnya besar. Cocok deh dengan niat saya kuliah lagi di S2 dan S3. Pagi ampe siang kuliah dan penelitian, sore ampe malam nyari duit di internet. Asyik kan?
Nasihat KH Zainuddin MZ ada benarnya lho: ”Seni membuat hidup lebih indah, teknologi membuat hidup lebih mudah, dan iman membuat hidup lebih terarah.”
16 Maret 2008
Kabar Baik Dan Kabar "Buruk"
Hari ini ada 2 kabar, satu baik dan satu "buruk". Sebenarnya dibilang buruk g tepat juga sih, karena setelah saya renungi lagi, justru ini malah bagus. Jadi kalimatnya diubah deh: "hari ini ada 2 kabar, dua-duanya baik".
Kabar baik pertama, alhamdulillah tanggal 15 kemarin, istri saya sudah diwisuda. Horee... akhirnya kesampaian juga meliat istri saya diwisuda. So, namanya sekarang menjadi Nunuk Kurniati, S.Si. Catat baik-baik ya. Jangan lupa dengan gelarnya. Alhamdulillah acara di Unjani kemarin itu lancar; g ada gangguan. Kalau pun ada, paling cuma hujan sebentar.
Kabar baik kedua, saya batal kuliah S1 dan S2 di IIUM. Ternyata setelah saya tanya ke pihak yang berwenang, IIUM g bisa nerima saya kuliah S1 di sana karena secara umur saya sudah lewat. Begitu pun yang S2, karena saya lulusan S1 Kimia maka kalau mau S2, saya hanya bisa ngambil jurusan yang sama. Yaa... terpaksa deh saya ganti rencana. Rencana saya, tahun depan (2009) saya mau S2 di UIN Syarif Hidayatullah, jurusan Syari'ah. Lalu setelah lulus tahun 2011, saya berencana kuliah di ISTAC IIUM. Moga-moga kali ini IIUM tidak menolak saya. Kalau masih ditolak, yaa saya cari kampus lain. Susah amat... Amat aja g susah :)
Kabar baik pertama, alhamdulillah tanggal 15 kemarin, istri saya sudah diwisuda. Horee... akhirnya kesampaian juga meliat istri saya diwisuda. So, namanya sekarang menjadi Nunuk Kurniati, S.Si. Catat baik-baik ya. Jangan lupa dengan gelarnya. Alhamdulillah acara di Unjani kemarin itu lancar; g ada gangguan. Kalau pun ada, paling cuma hujan sebentar.
Kabar baik kedua, saya batal kuliah S1 dan S2 di IIUM. Ternyata setelah saya tanya ke pihak yang berwenang, IIUM g bisa nerima saya kuliah S1 di sana karena secara umur saya sudah lewat. Begitu pun yang S2, karena saya lulusan S1 Kimia maka kalau mau S2, saya hanya bisa ngambil jurusan yang sama. Yaa... terpaksa deh saya ganti rencana. Rencana saya, tahun depan (2009) saya mau S2 di UIN Syarif Hidayatullah, jurusan Syari'ah. Lalu setelah lulus tahun 2011, saya berencana kuliah di ISTAC IIUM. Moga-moga kali ini IIUM tidak menolak saya. Kalau masih ditolak, yaa saya cari kampus lain. Susah amat... Amat aja g susah :)
12 Maret 2008
Sudah Bisa Online Di Rumah Nih!
Alhamdulillah, hari ini, rumah saya sudah "kemasukan" internet. Alhamdulillah berkat ini, saya nggak perlu capek-capek ngantri di warnet/ begadang nungguin jam 11pm untuk dapet jatah komputer kosong.
He he he... mungkin terdengar lucu ya? Punya blog tapi kok belum masang internet? Tapi itulah saya. Ketika membuat blog tanggal 1 Januari kemarin, saya memang belum masang internet. Postingan selalu saya lakukan di warnet. So, teman-teman g usah heran kalau postingan saya banyak bolong-bolongnya. Tau sendiri kan, gimana kondisi warnet? Belum lagi kesibukan pribadi (Ciee... sok sibuk banget!). Gimana g sibuk? Pagi: tidur, siang: bobo, sore: nonton TV, malam: naum (=tidur, Arab). Sibuk kan? :) --> rutinitas buruk, jangan ditiru. Beneran, jangan ditiru!
He he he... mungkin terdengar lucu ya? Punya blog tapi kok belum masang internet? Tapi itulah saya. Ketika membuat blog tanggal 1 Januari kemarin, saya memang belum masang internet. Postingan selalu saya lakukan di warnet. So, teman-teman g usah heran kalau postingan saya banyak bolong-bolongnya. Tau sendiri kan, gimana kondisi warnet? Belum lagi kesibukan pribadi (Ciee... sok sibuk banget!). Gimana g sibuk? Pagi: tidur, siang: bobo, sore: nonton TV, malam: naum (=tidur, Arab). Sibuk kan? :) --> rutinitas buruk, jangan ditiru. Beneran, jangan ditiru!
17 Februari 2008
Libur...
Duh, sudah lama nggak posting nih. Jadi nggak enak. Mohon maklum, baru selesai ujian di MU sih. Alhamdulillah ujian di MU sudah selesai dan sekarang saya dan teman-teman MU sedang liburan. Nggak lama-lama sih, cuma 2 minggu tapi yang penting bisa santaaai...
Capek lho tiap hari berangkat dari rumah jam 6.30 pagi untuk ngejar jadwal di MU. Maklum, dari rumah ke MU saya perlu waktu tempuh 1 jam. Dan kalau saya telat berangkat 10-15 menit aja, langsung deh saya menemui "Setan Jakarta": macet! Wah, kalau diinget-inget g enak deh. Jakarta emang sudah terlalu padet. Jadi nggak nyaman buat tempat tinggal, kerja, dan kuliah. Mungkin kalau ada sebuah kota yang seperti Jakarta tapi nggak macet dan banjir, 99% penduduk Jakarta hijrah kesana kali ya?
Well, udahan dulu. Lagi nggak terlalu mood posting panjang-panjang nih.
Capek lho tiap hari berangkat dari rumah jam 6.30 pagi untuk ngejar jadwal di MU. Maklum, dari rumah ke MU saya perlu waktu tempuh 1 jam. Dan kalau saya telat berangkat 10-15 menit aja, langsung deh saya menemui "Setan Jakarta": macet! Wah, kalau diinget-inget g enak deh. Jakarta emang sudah terlalu padet. Jadi nggak nyaman buat tempat tinggal, kerja, dan kuliah. Mungkin kalau ada sebuah kota yang seperti Jakarta tapi nggak macet dan banjir, 99% penduduk Jakarta hijrah kesana kali ya?
Well, udahan dulu. Lagi nggak terlalu mood posting panjang-panjang nih.
16 Januari 2008
Menghafal Al Qur'an Itu Mudah Lho!
Surprise dengan judul di atas? Bukan bermaksud meremehkan sesuatu yang rumit atau mengecilkan sesuatu yang besar. Saya cuma mau cerita pengalaman hari ini yang begitu berkesan sampai-sampai muncul judul di atas.
Semuanya ini bermula dari cerita seorang teman sekelas saya di MU. Namanya Nurul Fajri. FYI, sebelum belajar Bahasa Arab, Nurul sudah menamatkan program Tahfizh (menghafal Al Qur'an) di MU. Sehingga saat bergabung bersama siswa-siswa Bahasa, Nurul sudah mendapatkan gelar Al Hafizh.
Suatu hari, Nurul bercerita tentang cara mudah menghafal Al Qur'an. Dia bilang, jangan langsung mulai menghafal tapi perbanyaklah tilawah terlebih dulu. Nurul memberi contoh: hari pertama 5 juz, hari kedua 10 juz, hari ketiga 15 juz lalu ulangi lagi. Lakukan terus menerus selama beberapa waktu sampai kita terbiasa. Setelah itu barulah mulai menghafal. Cara ini bertujuan agar kita terbiasa dengan isim (noun), fi'il (verb), hurf, dan susunan kalimat dalam ayat-ayat Al Qur'an. So, saat kita mulai menghafal, kita nggak kesulitan mengingat ayat-ayat yang sedang ditarget.
Cara ini saya pakai saat mulai menghafal 3 surat di juz 29, yaitu Al Haqqah, Al Ma'arij, dan Nuh. Dari awal Januari sampai tanggal 15 kemarin, saya berulang-ulang membaca ketiga surat ini agar mudah menghafalnya. Dan itu terbukti hari ini.
Pelajaran pertama hari ini adalah Tafsir. Tapi bukannya belajar Tafsir, Ustadz malah mengecek hafalan kami, khususnya hafalan surat Nuh. Berhubung saya memang belum hafal satu ayat pun, terpaksa deh saya menggunakan jam pelajaran untuk menghafal surat itu mulai dari ayat pertama. Kacau banget ya? Ini sih nggak ada bedanya dengan sistem SKS. Malah mungkin lebih parah. Jangan ditiru ya!
Tapi alhamdulillah, dalam waktu kira-kira 45 menit itu, saya bisa menghafal 10 ayat. Dan saya ingat banget, saat itu terasa enteng dan ringan saat menghafal. Mungkinkah ini efek dari seringnya saya membaca surat Nuh? Wallahu a'lam tapi satu hal yang pasti, cerita Nurul benar-benar bermanfaat. Subhanallah, semoga Allah Ta'ala memberi pahala pada Nurul karena bersedia sharing kepada saya.
So, kalau sekarang saya ditanya, "Susah nggak sih menghafal Al Qur'an?"
Jawabannya, "Nggak, gampang kok!"
Tapi jangan lupa untuk muraja'ah (mengulang-ulang). Karena hafalan Al Qur'an sangat gampang hilang kalau kita males/ lupa/ enggan muraja'ah. Dan saya rasa inilah bagian yang susahnya: muraja'ah hafalan.
Tapi bukankah tidak ada kesuksesan yang didapatkan tanpa kesulitan?
Semuanya ini bermula dari cerita seorang teman sekelas saya di MU. Namanya Nurul Fajri. FYI, sebelum belajar Bahasa Arab, Nurul sudah menamatkan program Tahfizh (menghafal Al Qur'an) di MU. Sehingga saat bergabung bersama siswa-siswa Bahasa, Nurul sudah mendapatkan gelar Al Hafizh.
Suatu hari, Nurul bercerita tentang cara mudah menghafal Al Qur'an. Dia bilang, jangan langsung mulai menghafal tapi perbanyaklah tilawah terlebih dulu. Nurul memberi contoh: hari pertama 5 juz, hari kedua 10 juz, hari ketiga 15 juz lalu ulangi lagi. Lakukan terus menerus selama beberapa waktu sampai kita terbiasa. Setelah itu barulah mulai menghafal. Cara ini bertujuan agar kita terbiasa dengan isim (noun), fi'il (verb), hurf, dan susunan kalimat dalam ayat-ayat Al Qur'an. So, saat kita mulai menghafal, kita nggak kesulitan mengingat ayat-ayat yang sedang ditarget.
Cara ini saya pakai saat mulai menghafal 3 surat di juz 29, yaitu Al Haqqah, Al Ma'arij, dan Nuh. Dari awal Januari sampai tanggal 15 kemarin, saya berulang-ulang membaca ketiga surat ini agar mudah menghafalnya. Dan itu terbukti hari ini.
Pelajaran pertama hari ini adalah Tafsir. Tapi bukannya belajar Tafsir, Ustadz malah mengecek hafalan kami, khususnya hafalan surat Nuh. Berhubung saya memang belum hafal satu ayat pun, terpaksa deh saya menggunakan jam pelajaran untuk menghafal surat itu mulai dari ayat pertama. Kacau banget ya? Ini sih nggak ada bedanya dengan sistem SKS. Malah mungkin lebih parah. Jangan ditiru ya!
Tapi alhamdulillah, dalam waktu kira-kira 45 menit itu, saya bisa menghafal 10 ayat. Dan saya ingat banget, saat itu terasa enteng dan ringan saat menghafal. Mungkinkah ini efek dari seringnya saya membaca surat Nuh? Wallahu a'lam tapi satu hal yang pasti, cerita Nurul benar-benar bermanfaat. Subhanallah, semoga Allah Ta'ala memberi pahala pada Nurul karena bersedia sharing kepada saya.
So, kalau sekarang saya ditanya, "Susah nggak sih menghafal Al Qur'an?"
Jawabannya, "Nggak, gampang kok!"
Tapi jangan lupa untuk muraja'ah (mengulang-ulang). Karena hafalan Al Qur'an sangat gampang hilang kalau kita males/ lupa/ enggan muraja'ah. Dan saya rasa inilah bagian yang susahnya: muraja'ah hafalan.
Tapi bukankah tidak ada kesuksesan yang didapatkan tanpa kesulitan?
11 Januari 2008
Kita dan Ahmadiyah
Hari Kamis kemarin saya mengikuti acara tabligh akbar di Masjid Al Azhar, Kebayoran Baru. Penyelenggaranya Forum Umat Islam (FUI). Oratornya banyak, ada Ust. Mashadi (Ketua FUI), Ust. Amin Djamaludin (LPPI), KH. Abdur Rasyid AS (PP Asy Syafi'iyah), Ust. Ja'far Shodiq (FPI), Ust. Munarman (Ketua Tim Advokasi FUI), Ust. Hijrah (DPP HTI) dll. Temanya: Bubarkan Ahmadiyah.
Nama Ahmadiyah memang sudah lama saya dengar, akan tetapi fakta-fakta penting tentang gerakan itu baru saya ketahui dengan gamblang di acara kemarin.
Ada 3 poin yang jelas-jelas membedakan Ahmadiyah dengan agama kita:
1. Orang-orang Ahmadiyah meyakini bahwa Mirza Ghulam Ahmad (MGA) adalah seorang Nabi dan Rasul Allah.
Sementara kita tidak. Tidak ada Nabi dan Rasul setelah Muhammad SAW bin Abdullah bin Abdul Muthalib.
2. Orang-orang Ahmadiyah meyakini bahwa kitab yang dibawa MGA (namanya Tadzkirah) adalah kitab suci yang diwahyukan oleh Allah.
Sementara kita tidak. Kitab suci terakhir yang diwahyukan oleh Allah adalah kitab yang diterima oleh Nabi Muhammad SAW bernama Al Qur'an.
FYI, isi Tadzkirah benar-benar berbeda dengan Al Qur'an lho. Ada perubahan urutan ayat. Jadi kalau dalam Al Qur'an urutannya misalnya ABCDEFGHIJ, maka dalam Tadzkirah urutannya diubah menjadi FBEGAHJCDI. Walau isinya nggak dirubah tapi merubah urutan jelas-jelas salah. Bukankah urutan yang sekarang ada di Al Qur'an adalah mutawatir dari Nabi Muhammad SAW?
3. Orang-orang Ahmadiyah tidak menyebut Nabi Muhammad SAW dalam syahadatainnya.
Sementara kita menyebut nama beliau. Urutan dan isi syahadatain adalah paket, tidak boleh ditambahi, dikurangi apalagi diubah.
Itu aja yang mampu saya ingat. Sebenarnya masih ada lagi tapi saya yakin 3 hal ini sudah sangat menjelaskan ke kita bahwa AHMADIYAH BUKAN ISLAM.
Nama Ahmadiyah memang sudah lama saya dengar, akan tetapi fakta-fakta penting tentang gerakan itu baru saya ketahui dengan gamblang di acara kemarin.
Ada 3 poin yang jelas-jelas membedakan Ahmadiyah dengan agama kita:
1. Orang-orang Ahmadiyah meyakini bahwa Mirza Ghulam Ahmad (MGA) adalah seorang Nabi dan Rasul Allah.
Sementara kita tidak. Tidak ada Nabi dan Rasul setelah Muhammad SAW bin Abdullah bin Abdul Muthalib.
2. Orang-orang Ahmadiyah meyakini bahwa kitab yang dibawa MGA (namanya Tadzkirah) adalah kitab suci yang diwahyukan oleh Allah.
Sementara kita tidak. Kitab suci terakhir yang diwahyukan oleh Allah adalah kitab yang diterima oleh Nabi Muhammad SAW bernama Al Qur'an.
FYI, isi Tadzkirah benar-benar berbeda dengan Al Qur'an lho. Ada perubahan urutan ayat. Jadi kalau dalam Al Qur'an urutannya misalnya ABCDEFGHIJ, maka dalam Tadzkirah urutannya diubah menjadi FBEGAHJCDI. Walau isinya nggak dirubah tapi merubah urutan jelas-jelas salah. Bukankah urutan yang sekarang ada di Al Qur'an adalah mutawatir dari Nabi Muhammad SAW?
3. Orang-orang Ahmadiyah tidak menyebut Nabi Muhammad SAW dalam syahadatainnya.
Sementara kita menyebut nama beliau. Urutan dan isi syahadatain adalah paket, tidak boleh ditambahi, dikurangi apalagi diubah.
Itu aja yang mampu saya ingat. Sebenarnya masih ada lagi tapi saya yakin 3 hal ini sudah sangat menjelaskan ke kita bahwa AHMADIYAH BUKAN ISLAM.
Langganan:
Postingan (Atom)
