Alhamdulillah, hari Ahad tanggal 29 kemarin saya berhasil menemukan masjid yang nyaman untuk I’tikaf. Itu adalah Al Kautsar; masjid Villa Kelapa Dua. Nggak terlalu jauh dari rumah, adem, dan lingkungannya kondusif. Bada Subuh hari Ahad kemarin sempat i'tikaf selama kira-kira 1 jam. Alhamdulillah muraja'ah juz 30 selesai.
Insya’ Allah mulai Senin ini saya akan rutin i’tikaf di Al Kautsar setiap hari. Antara 1 – 2 jam. Agendanya cuma 1, yaitu murajaah atau nambah hafalan. Jamnya sih belum bisa dipastikan karena dari hari Senin – Kamis bada Subuh saya mau ikut ta’lim di Darul Muwahhid. I’tikafnya mungkin setelah itu atau setelah sarapan dan ngurus tetek bengek di rumah. Kira-kira jam 9-an lah. Kalau hari Jum’at – Ahad insya’ Allah saya akan Subuh di sana lalu muraja’ahnya bada Subuh.
Semoga ini menjadi wasilah keberhasilan saya menghafal 5 juz tahun ini. Amin.
NB: sekarang sudah jam 09:42 nih. Time to go to Al Kautsar!
30 Maret 2009
16 Maret 2009
Kejar Setoran
Subhanallah, kemarin Ahad sibuk banget. Dari pagi sampai sore. Akhirnya, jatah muraja’ah tanggal 15 nggak terkejar deh. Mau nggak mau, hari ini, jatah tanggal 15 dan 16 harus saya kejar. Weleh, weleh, kejar setoran lagi nih.
Jadi begini, kemarin itu rumah saya (lebih tepatnya rumah orangtua) jadi tempat pertemuan teman-teman yang mau berangkat ke Ciampea, Bogor. Mereka adalah panitia pernikahan salah satu teman saya, Suparno. Karena tempatnya jauh, mereka pun sepakat berangkat bareng naik mobil dari rumah saya. Tapi saya nggak ikut loh. Saya cuma nyediain tempat pertemuan dan tempat nitip motor. Soalnya jam 9 saya harus ke Manggarai.
Tentu saja, saya nggak mungkin nganggurin teman-teman. Kasian banget nggak dikasih makan dan minum. Padahal mereka ngumpulnya jam 06.00; pagi banget kan? Pasti belum sarapan tuh.
Lalu Shalat Zuhur, saya berencana ke Ciampea, ke walimahannya Suparno. Tapi ternyata, hujan besar. Masya ‘Allah, gede banget. Terpaksa berteduh di daerah Radio Dalam deh. Lalu setelah mempertimbangkan banyak hal, saya terpaksa membatalkan rencana ke Ciampea. Duh, afwan jiddan ya Mas Parno, nggak menuhin undangan antum.
Barakallahu laka wa baraka ‘alaika wa jama’a baynakuma fii khayrin.
Terus nyampe rumah jam 16.00; lalu shalat bareng istri. Lalu tidur… cape banget.
Malamnya, saya ngafalin surat Al Baqarah halaman 6. Sayangnya, karena sudah terlalu malam, keburu ngantuk, jatah muraja’ahnya jadi nggak kekejar deh. Cuma sempat ngafalin halaman 6. Wa idz qaa la rabbuka lil malaa-ikati...
NB: walau isi tas sudah saya bungkus plastik, ternyata masih tembus juga loh. Korbannya: mushaf kesayangan saya. Jadi basah dan berkerut-kerut deh. Ihik ihik mushafku…
Jadi begini, kemarin itu rumah saya (lebih tepatnya rumah orangtua) jadi tempat pertemuan teman-teman yang mau berangkat ke Ciampea, Bogor. Mereka adalah panitia pernikahan salah satu teman saya, Suparno. Karena tempatnya jauh, mereka pun sepakat berangkat bareng naik mobil dari rumah saya. Tapi saya nggak ikut loh. Saya cuma nyediain tempat pertemuan dan tempat nitip motor. Soalnya jam 9 saya harus ke Manggarai.
Tentu saja, saya nggak mungkin nganggurin teman-teman. Kasian banget nggak dikasih makan dan minum. Padahal mereka ngumpulnya jam 06.00; pagi banget kan? Pasti belum sarapan tuh.
Lalu Shalat Zuhur, saya berencana ke Ciampea, ke walimahannya Suparno. Tapi ternyata, hujan besar. Masya ‘Allah, gede banget. Terpaksa berteduh di daerah Radio Dalam deh. Lalu setelah mempertimbangkan banyak hal, saya terpaksa membatalkan rencana ke Ciampea. Duh, afwan jiddan ya Mas Parno, nggak menuhin undangan antum.
Barakallahu laka wa baraka ‘alaika wa jama’a baynakuma fii khayrin.
Terus nyampe rumah jam 16.00; lalu shalat bareng istri. Lalu tidur… cape banget.
Malamnya, saya ngafalin surat Al Baqarah halaman 6. Sayangnya, karena sudah terlalu malam, keburu ngantuk, jatah muraja’ahnya jadi nggak kekejar deh. Cuma sempat ngafalin halaman 6. Wa idz qaa la rabbuka lil malaa-ikati...
NB: walau isi tas sudah saya bungkus plastik, ternyata masih tembus juga loh. Korbannya: mushaf kesayangan saya. Jadi basah dan berkerut-kerut deh. Ihik ihik mushafku…
13 Maret 2009
Sayyidina Utsman, Qari' dan Dermawan
Mau ngulas artikel yang saya muat kemarin nih.
Jujur, itu adalah hadits yang sangat indah bagi saya. Betapa Rasul membolehkan dengki pada 2 golongan tersebut (para qurra’ dan dermawan). Tentu ini karena kedua golongan tersebut mempunyai kedudukan yang amat mulia sehingga dengki kepada mereka diperbolehkan. Tentu dengki yang membawa kita agar beramal seperti mereka. Bukan dengki yang akan menuntun kita untuk mencelakakan mereka. Na’udzubillah deh.
Lalu bagaimana jika kedua keunggulan itu berkumpul pada satu orang? Pastilah kita akan sepakat bahwasanya orang tersebut amat sangat pantas disebut sebagai orang mulia. Hiperbolik banget yah? “Amat sangat pantas”. Ketauan Guru Bahasa Indonesia, dikritik abis-abisan nih :)
Dan seseorang yang mempunyai kedua keunggulan itu ternyata ada lho. Salah satunya adalah Sayyidina Utsman bin Affan. Tau dong siapa beliau? Yup. Beliau adalah salah satu As Sabiqunal Awwalun, khalifah rasyidah ketiga, dan menantu Rasul.
Sebenarnya masih banyak identitas beliau, tapi cukup 3 deh. Nanti nggak muat. Resiko ngemuat profil orang yang dimuliakan Allah: nggak cukup kata untuk menggambarkannya.
Nah, Sayyidina Utsman ini ternyata punya dua keunggulan yang disinggung Rasul, yaitu sebagai qari’ dan dermawan. Saya nggak akan ngebahas kedermawanan beliau karena saya yakin kita semua sudah tahu. Terkenal banget gitu lho.
Yang akan saya bahas adalah kehebatan beliau dalam membaca Al Qur’an. Silakan cek di www.cahaya-islam.com/index.php?pilih=news&mod=yes&aksi=lihat&id=259 dan www.imsa.us/index2.php?option=com_content&do_pdf=1&id=196. Di sana dijelaskan bahwasanya Sayyidina Utsman:
1. Mengkhatamkan Al Qur’an dalam 1 rakaat shalat. Subhanallah, 30 juz dalam 1 rakaat! Padahal waktu i’tikaf di Al Hikmah Ramadhan kemarin, shalat 8 rakaat 3 juz aja saya nggak kuat. Apalagi 30 juz 1 rakaat.
2. Mengkhatamkan Al Qur’an dalam 7 hari, mulai malam Jum’at sampai malam Kamis. Ini perinciannya:
Malam Jum’at: Al Baqarah – Al Ma’idah,
Malam Sabtu: Al An’am – Hud,
Malam Ahad: Yusuf – Maryam,
Malam Senin: Thaha – Al Qashash,
Malam Selasa: Al Ankabut – Shad,
Malam Rabu: Az Zumar – Ar Rahman,
Malam Kamis: Al Waqi’ah – An Nas.
Luar biasa ya? Siang hari ngurus bisnis, dakwah, dan umat; malam hari mengkhatamkan Al Qur’an. Sayyidina Utsman memang luar biasa.
Alangkah indahnya jika Allah mengizinkan saya menjadi seperti beliau. Amin.
Jujur, itu adalah hadits yang sangat indah bagi saya. Betapa Rasul membolehkan dengki pada 2 golongan tersebut (para qurra’ dan dermawan). Tentu ini karena kedua golongan tersebut mempunyai kedudukan yang amat mulia sehingga dengki kepada mereka diperbolehkan. Tentu dengki yang membawa kita agar beramal seperti mereka. Bukan dengki yang akan menuntun kita untuk mencelakakan mereka. Na’udzubillah deh.
Lalu bagaimana jika kedua keunggulan itu berkumpul pada satu orang? Pastilah kita akan sepakat bahwasanya orang tersebut amat sangat pantas disebut sebagai orang mulia. Hiperbolik banget yah? “Amat sangat pantas”. Ketauan Guru Bahasa Indonesia, dikritik abis-abisan nih :)
Dan seseorang yang mempunyai kedua keunggulan itu ternyata ada lho. Salah satunya adalah Sayyidina Utsman bin Affan. Tau dong siapa beliau? Yup. Beliau adalah salah satu As Sabiqunal Awwalun, khalifah rasyidah ketiga, dan menantu Rasul.
Sebenarnya masih banyak identitas beliau, tapi cukup 3 deh. Nanti nggak muat. Resiko ngemuat profil orang yang dimuliakan Allah: nggak cukup kata untuk menggambarkannya.
Nah, Sayyidina Utsman ini ternyata punya dua keunggulan yang disinggung Rasul, yaitu sebagai qari’ dan dermawan. Saya nggak akan ngebahas kedermawanan beliau karena saya yakin kita semua sudah tahu. Terkenal banget gitu lho.
Yang akan saya bahas adalah kehebatan beliau dalam membaca Al Qur’an. Silakan cek di www.cahaya-islam.com/index.php?pilih=news&mod=yes&aksi=lihat&id=259 dan www.imsa.us/index2.php?option=com_content&do_pdf=1&id=196. Di sana dijelaskan bahwasanya Sayyidina Utsman:
1. Mengkhatamkan Al Qur’an dalam 1 rakaat shalat. Subhanallah, 30 juz dalam 1 rakaat! Padahal waktu i’tikaf di Al Hikmah Ramadhan kemarin, shalat 8 rakaat 3 juz aja saya nggak kuat. Apalagi 30 juz 1 rakaat.
2. Mengkhatamkan Al Qur’an dalam 7 hari, mulai malam Jum’at sampai malam Kamis. Ini perinciannya:
Malam Jum’at: Al Baqarah – Al Ma’idah,
Malam Sabtu: Al An’am – Hud,
Malam Ahad: Yusuf – Maryam,
Malam Senin: Thaha – Al Qashash,
Malam Selasa: Al Ankabut – Shad,
Malam Rabu: Az Zumar – Ar Rahman,
Malam Kamis: Al Waqi’ah – An Nas.
Luar biasa ya? Siang hari ngurus bisnis, dakwah, dan umat; malam hari mengkhatamkan Al Qur’an. Sayyidina Utsman memang luar biasa.
Alangkah indahnya jika Allah mengizinkan saya menjadi seperti beliau. Amin.
12 Maret 2009
Dua Pendengki Yang Disukai
Hari ini saya hanya mau menampilkan artikel yang ditulis salah satu ustadz saya di dunia maya dan dunia nyata: Ustadz Taufiq Hamim Effendi, Lc, MA. Beliau sempat mengajar saya di Ma’had Utsman di Mustawa Awwal dan Tsani. Sebenarnya kalau saya terus belajar di Ma'had Utsman, pasti beliau juga terus mengajar saya di mustawa selanjutnya. Tapi sayangnya karena… ah sudahlah, jangan terbiasa menyesali keputusan yang sudah diambil.
Anyway, judul asli tulisan ini adalah “Dua Pendengki Yang Disukai”. Dimuat di warnaislam.com. Ini linknya: http://warnaislam.com/blog/taufik/2008/10/31/22560/Dua_Pendengki_Disukai.htm
Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah Shallahu 'alaihi wa sallama bersabda : " Tidak ada kedengkian (yang bolehkan) kecuali dalam dua hal : (Dengki) kepada seseorang yang telah Allah ajarkan kepadanya Al-Qur'an lalu dia membacanya sepanjang siang dan malam hari, kemudian tetangganya mendengarnya dan berkata : " Oh… seandainya saja aku seperti dia, maka aku akan mengamalkannya seperti dia. Dan (Dengki) kepada seseorang yang telah Allah berikan kepadanya harta lalu dia menggunakannya untuk kebenaran. Lalu seseorang berkata : " Oh… seandainya saja aku seperti dia, maka aku akan mengamalkannya seperti dia ". (H.R. Bukhari)
Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhu : Aku mendengar Rasulullah Shallahu 'alaihi wa sallama bersabda : " Tidak ada kedengkian kecuali dalam dua hal : ( Dengki ) kepada seseorang yang telah Allah berikan kepadanya Al-Kitab dan dia membacanya dalam shalat sepanjang malam, Dengki )kepada seseorang yang telah Allah berikan kepadanya harta lalu dia bersedekah sepanjang siang dan malam hari ". (H.R. Bukhari)
KANDUNGAN HADITS
Dengki adalah diantara sifat tercela yang harus dihindari oleh setiap kita, sebagai seorang muslim kita diperintahkan untuk menjauhinya dan bahkan kita harus berlindung dari kedengkian orang-orang yang dengki.
Demikian yang disebutkan di dalam Al-Qur'an surat Al-Falaq ayat 5 :
"Dan dari kejahatan pendengki bila ia dengki."
Karena bila sifat dengki telah merasuki diri kita maka hal ini akan berakibat kepada hubungan yang tidak sehat terhadap orang lain.
Islam sebagai agama mulia bukan saja melarang manusia dari perbuatan yang tidak terpuji, namun ia juga memberikan solusi terbaik bagi para pemeluknya, yaitu dengan membolehkan kepada mereka untuk iri dan dengki dalam dua hal :
Pertama,
Kepada orang yang telah Allah ajarkan kepadanya Al-Qur'an lalu dia membacanya sepanjang siang dan malam hari, baik dalam shalatnya ataupun di luar shalat. Juga kita diperbolehkan dengki kepada orang yang memiliki ilmu pengetahuan.
Kedua,
Kepada orang yang telah diberikan rizki berupa harta lalu dia menggunakannya untuk kebaikan, baik dalam bentuk zakat, infaq, sedekah, keperluan pribadi ataupun yang lainnya.
Dengki yang demikian itu memang sangat dianjurkan sekali oleh Islam, sifat iri atau dengki seperi inilah yang harus tertanam pada diri kita, sifat ingin seperti orang lain dalam hal kebaikan dan tidak menginginkan kebaikan tersebut hilang dari orang tersebut yang dalam Islam disebut dengan ghibthah.
Seorang shahabat Nabi SAW yang bernama Zubair bin Awwam meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda :
" Penyakit umat terdahulu berupa dengki dan kebenbencian telah menjalar pada umat sebelum kalian, kebencian itu adalah pemangkas agama, bukanlah pemangkas rambut, demi Yang jiwa Muhammad ada di tangan-Nya, tidak beriman kalian sehingga kalian saling mencintai, maukah kalian aku beritahu sesuatu yang apabila kalian lakukan dapat membuat kalian saling mencintai ? (yaitu) sebarkanlah salam" (H.R. Ahmad).
Semoga kita terhindar dari sifat dengki yang selama ini merasuki diri kita dan saudara-saudara kita. Sifat dengki yang akan membuat barisan kaum muslimin tercerai-berai, sifat dengki yang akan membuat kita tidak saling mencintai. Jadi kalaupun kita ingin jadi seorang pendengki, maka jadilah pendengki yang dibolehkan, sehingga kita pun akan dicintai.
Wallahu 'alam bish-shawab
Anyway, judul asli tulisan ini adalah “Dua Pendengki Yang Disukai”. Dimuat di warnaislam.com. Ini linknya: http://warnaislam.com/blog/taufik/2008/10/31/22560/Dua_Pendengki_Disukai.htm
Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah Shallahu 'alaihi wa sallama bersabda : " Tidak ada kedengkian (yang bolehkan) kecuali dalam dua hal : (Dengki) kepada seseorang yang telah Allah ajarkan kepadanya Al-Qur'an lalu dia membacanya sepanjang siang dan malam hari, kemudian tetangganya mendengarnya dan berkata : " Oh… seandainya saja aku seperti dia, maka aku akan mengamalkannya seperti dia. Dan (Dengki) kepada seseorang yang telah Allah berikan kepadanya harta lalu dia menggunakannya untuk kebenaran. Lalu seseorang berkata : " Oh… seandainya saja aku seperti dia, maka aku akan mengamalkannya seperti dia ". (H.R. Bukhari)
Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhu : Aku mendengar Rasulullah Shallahu 'alaihi wa sallama bersabda : " Tidak ada kedengkian kecuali dalam dua hal : ( Dengki ) kepada seseorang yang telah Allah berikan kepadanya Al-Kitab dan dia membacanya dalam shalat sepanjang malam, Dengki )kepada seseorang yang telah Allah berikan kepadanya harta lalu dia bersedekah sepanjang siang dan malam hari ". (H.R. Bukhari)
KANDUNGAN HADITS
Dengki adalah diantara sifat tercela yang harus dihindari oleh setiap kita, sebagai seorang muslim kita diperintahkan untuk menjauhinya dan bahkan kita harus berlindung dari kedengkian orang-orang yang dengki.
Demikian yang disebutkan di dalam Al-Qur'an surat Al-Falaq ayat 5 :
"Dan dari kejahatan pendengki bila ia dengki."
Karena bila sifat dengki telah merasuki diri kita maka hal ini akan berakibat kepada hubungan yang tidak sehat terhadap orang lain.
Islam sebagai agama mulia bukan saja melarang manusia dari perbuatan yang tidak terpuji, namun ia juga memberikan solusi terbaik bagi para pemeluknya, yaitu dengan membolehkan kepada mereka untuk iri dan dengki dalam dua hal :
Pertama,
Kepada orang yang telah Allah ajarkan kepadanya Al-Qur'an lalu dia membacanya sepanjang siang dan malam hari, baik dalam shalatnya ataupun di luar shalat. Juga kita diperbolehkan dengki kepada orang yang memiliki ilmu pengetahuan.
Kedua,
Kepada orang yang telah diberikan rizki berupa harta lalu dia menggunakannya untuk kebaikan, baik dalam bentuk zakat, infaq, sedekah, keperluan pribadi ataupun yang lainnya.
Dengki yang demikian itu memang sangat dianjurkan sekali oleh Islam, sifat iri atau dengki seperi inilah yang harus tertanam pada diri kita, sifat ingin seperti orang lain dalam hal kebaikan dan tidak menginginkan kebaikan tersebut hilang dari orang tersebut yang dalam Islam disebut dengan ghibthah.
Seorang shahabat Nabi SAW yang bernama Zubair bin Awwam meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda :
" Penyakit umat terdahulu berupa dengki dan kebenbencian telah menjalar pada umat sebelum kalian, kebencian itu adalah pemangkas agama, bukanlah pemangkas rambut, demi Yang jiwa Muhammad ada di tangan-Nya, tidak beriman kalian sehingga kalian saling mencintai, maukah kalian aku beritahu sesuatu yang apabila kalian lakukan dapat membuat kalian saling mencintai ? (yaitu) sebarkanlah salam" (H.R. Ahmad).
Semoga kita terhindar dari sifat dengki yang selama ini merasuki diri kita dan saudara-saudara kita. Sifat dengki yang akan membuat barisan kaum muslimin tercerai-berai, sifat dengki yang akan membuat kita tidak saling mencintai. Jadi kalaupun kita ingin jadi seorang pendengki, maka jadilah pendengki yang dibolehkan, sehingga kita pun akan dicintai.
Wallahu 'alam bish-shawab
21 Januari 2009
Wajib Pindah Ke Kuadran 2
Alhamdulillah... tes kemaren sukses. Meskipun sempat bikin panik, tapi alhamdulillah akhirnya saya bisa melewati tes muraja'ah dengan baik. Bayangkan, bada subuh sudah berangkat ke Al Ikhlas. Bela-belain supaya nggak telat dan bisa persiapan lebih baik. Alhamdulillah sukses. Puas rasanya...
Tapi walau begitu, sebenarnya saya nggak terlalu puas. Ini karena setelah saya evaluasi, saya masih tergolong di Kuadran 1; orang-orang yang sering kepepet dalam mengerjakan sesuatu. Padahal pengennya tergolong Kuadran 2; orang-orang yang bisa menempatkan prioritas dengan baik. Riilnya, punya planning dan konsisten dengan itu. Kalau saya, kadang-kadang punya planning sih, tapi belum konsisten dengan itu. Padahal ke depannya, hafalan saya pasti nambah. Kalau sekarang baru sampai Al Jinn, ke depannya akan nambah Al Muzammil, Al Muddats-tsir, Al Qiyamah, Al Insan, dan Al Mursalat. Belum lagi juz-juz berikutnya, apalagi saya punya target 5 juz tahun ini.
Itu berarti, menempatkan diri di Kuadran 2 adalah kewajiban yang harus saya lakukan. Tidak ada pilihan lain. Kecuali, tentunya, kalau saya ingin gagal menjadi hafizh.
Pastinya, saya nggak mau! Uridu an akuuna al hafizh!
Tapi walau begitu, sebenarnya saya nggak terlalu puas. Ini karena setelah saya evaluasi, saya masih tergolong di Kuadran 1; orang-orang yang sering kepepet dalam mengerjakan sesuatu. Padahal pengennya tergolong Kuadran 2; orang-orang yang bisa menempatkan prioritas dengan baik. Riilnya, punya planning dan konsisten dengan itu. Kalau saya, kadang-kadang punya planning sih, tapi belum konsisten dengan itu. Padahal ke depannya, hafalan saya pasti nambah. Kalau sekarang baru sampai Al Jinn, ke depannya akan nambah Al Muzammil, Al Muddats-tsir, Al Qiyamah, Al Insan, dan Al Mursalat. Belum lagi juz-juz berikutnya, apalagi saya punya target 5 juz tahun ini.
Itu berarti, menempatkan diri di Kuadran 2 adalah kewajiban yang harus saya lakukan. Tidak ada pilihan lain. Kecuali, tentunya, kalau saya ingin gagal menjadi hafizh.
Pastinya, saya nggak mau! Uridu an akuuna al hafizh!
19 Januari 2009
Siap-siap Tes Hafalan Besok
Wah, hari ini harus ngurangin keluar rumah dan on-line nih. Ini karena insya ‘Allah besok saya ada tes. Tes hafalan. Dan nggak main-main, semua surat yang sudah saya hafal akan dites Ust. Zulfah.
Karena saya nggak mau ambil resiko, plus nggak mau ngebiasain terperangkap di Kuadran I, maka saya berencana untuk mengerjakan 2 hal saja hari ini:
1. Muraja’ah hafalan. Punya hafalan, semakin banyak, semakin perlu dimuraja’ah. Kalau nggak, pasti cepat lupa. Jadi inget hadits Nabi yang menyatakan hal ini. Beliau saw bilang, hafalan Al Qur’an itu cepat lepas kalau nggak diikat (dimuraja’ah), seperti lepasnya unta dari ikatannya. Saya lupa perawi haditsnya, tapi insya ‘Allah shahih. Makanya, jangan heran ngeliat seorang hafizh yang sibuk bermuraja’ah. Nggak mau hafalannya “kabur” sih…
2. Ngajar my private students. Wah kalau yang ini sih emang sudah kewajiban, mau nggak mau harus dilakukan. Kalau nggak, mereka kecewa deh. Kalau mereka kecewa, bisa-bisa berhenti privat ama saya dong. Kalau berhenti privat, saya nggak dapat uang dong. Kalau nggak dapat uang… halah mulai ngelantur! :)
Moga-moga besok pagi saya sudah siap dites Ust. Zulfah. Amin…
Karena saya nggak mau ambil resiko, plus nggak mau ngebiasain terperangkap di Kuadran I, maka saya berencana untuk mengerjakan 2 hal saja hari ini:
1. Muraja’ah hafalan. Punya hafalan, semakin banyak, semakin perlu dimuraja’ah. Kalau nggak, pasti cepat lupa. Jadi inget hadits Nabi yang menyatakan hal ini. Beliau saw bilang, hafalan Al Qur’an itu cepat lepas kalau nggak diikat (dimuraja’ah), seperti lepasnya unta dari ikatannya. Saya lupa perawi haditsnya, tapi insya ‘Allah shahih. Makanya, jangan heran ngeliat seorang hafizh yang sibuk bermuraja’ah. Nggak mau hafalannya “kabur” sih…
2. Ngajar my private students. Wah kalau yang ini sih emang sudah kewajiban, mau nggak mau harus dilakukan. Kalau nggak, mereka kecewa deh. Kalau mereka kecewa, bisa-bisa berhenti privat ama saya dong. Kalau berhenti privat, saya nggak dapat uang dong. Kalau nggak dapat uang… halah mulai ngelantur! :)
Moga-moga besok pagi saya sudah siap dites Ust. Zulfah. Amin…
17 Januari 2009
Resolusi Tahun 2009
Ngomong-ngomong tentang resolusi tahun baru, saya juga sudah punya nih. Bukan bermaksud ikut-ikutan, tapi saya melihat setiap orang perlu merumuskan target-target pribadinya. Baik yang bersifat tahunan, bulanan, sampai harian. Alhamdulillah saya sudah biasa membuat target bulanan, yang senantiasa diperbaharui tiap bulan. Ada yang terpenuhi 100%, ada yang cuma 70%, 50%, 10%, bahkan ada yang harus dibatalin karena saya nggak sanggup memenuhinya. Yaa… tahu diri-lah.
Balik ke resolusi tahun baru, ini dia resolusi-resolusi saya di 2009:
1. Punya anak. Pacaran 1 tahun sama istri saya rasa “more than enough”. Waktunya punya momongan nih. Pengen segera punya nama panggilan, “Abu Muhammad” nih :)
2. Ikut majelis tatsqif (pengajian) 5 kali seminggu. Alhamdulillah program menghafal Al Qur’an sudah berjalan 2 kali seminggu. Tinggal nyari yang 3 kali. Rencananya sih mau ikut program kajian Tafsir Jalalayn di Ma’had Darul Muwahhid (DM). Masalahnya, mulainya bada Subuh dan baru selesai jam 6 pagi. Berarti saya harus nyubuh di DM. Padahal DM jauh dari rumah saya lho. Saya di Sukabumi Utara, DM di Srengseng. Kira-kira milih DM realistis nggak ya…?
3. Hafal Al Qur’an 5 juz. Juz 30 dan setengah juz 29 sudah hafal. Berarti tinggal 3,5 juz lagi nih. Kalau melihat waktu yang masih ada 11,5 bulan, sepertinya sih bisa. Hanya saja, kedisiplinan harus benar-benar kokoh saya pegang.
4. Punya penghasilan bulanan Rp. 12 juta. Wah, ini yang rada “out of the box”. Alasannya, karena selama ini saya belum pernah punya penghasilan sebanyak ini. Hasil ngajar selama ini hanya berkisar Rp. 600 ribu – Rp. 1,5 juta per bulan. Makanya, spektakuler banget kalau bisa meningkat kira-kira 8 – 20 kali lipatnya. He he he… merinding ngebayanginnya. Begitu ini berhasil tercapai, berarti saya sudah melakukan lompatan besar dalam hidup, nih.
Well, saya rasa cukup 4 saja dulu. Khawatir bingung kalau kebanyakan. Mungkin keinginan-keinginan lain ditunda dulu deh. Saya berprinsip, lebih baik target sedikit tapi tercapai semua daripada target banyak tapi tidak tercapai. Tentu saja, yang terbaik adalah target banyak dan tercapai semua. Tapi buat saya saat ini, itu masih belum realistis.
Balik ke resolusi tahun baru, ini dia resolusi-resolusi saya di 2009:
1. Punya anak. Pacaran 1 tahun sama istri saya rasa “more than enough”. Waktunya punya momongan nih. Pengen segera punya nama panggilan, “Abu Muhammad” nih :)
2. Ikut majelis tatsqif (pengajian) 5 kali seminggu. Alhamdulillah program menghafal Al Qur’an sudah berjalan 2 kali seminggu. Tinggal nyari yang 3 kali. Rencananya sih mau ikut program kajian Tafsir Jalalayn di Ma’had Darul Muwahhid (DM). Masalahnya, mulainya bada Subuh dan baru selesai jam 6 pagi. Berarti saya harus nyubuh di DM. Padahal DM jauh dari rumah saya lho. Saya di Sukabumi Utara, DM di Srengseng. Kira-kira milih DM realistis nggak ya…?
3. Hafal Al Qur’an 5 juz. Juz 30 dan setengah juz 29 sudah hafal. Berarti tinggal 3,5 juz lagi nih. Kalau melihat waktu yang masih ada 11,5 bulan, sepertinya sih bisa. Hanya saja, kedisiplinan harus benar-benar kokoh saya pegang.
4. Punya penghasilan bulanan Rp. 12 juta. Wah, ini yang rada “out of the box”. Alasannya, karena selama ini saya belum pernah punya penghasilan sebanyak ini. Hasil ngajar selama ini hanya berkisar Rp. 600 ribu – Rp. 1,5 juta per bulan. Makanya, spektakuler banget kalau bisa meningkat kira-kira 8 – 20 kali lipatnya. He he he… merinding ngebayanginnya. Begitu ini berhasil tercapai, berarti saya sudah melakukan lompatan besar dalam hidup, nih.
Well, saya rasa cukup 4 saja dulu. Khawatir bingung kalau kebanyakan. Mungkin keinginan-keinginan lain ditunda dulu deh. Saya berprinsip, lebih baik target sedikit tapi tercapai semua daripada target banyak tapi tidak tercapai. Tentu saja, yang terbaik adalah target banyak dan tercapai semua. Tapi buat saya saat ini, itu masih belum realistis.
Langganan:
Postingan (Atom)
